Inilah sejarah desa Durenombo,sasaran TMMD reguler ke103 Kodim 0736/Batang 2018

Batang – Sabtu siang tiap penramil mendatangi lokasi yang akan menjadi sasaran TMMD reguler ke103 Kodim Batang tahun 2018.meraka datang untuk mendokumentasikan kegiatan pra TMMD. siang itu begitu panas,tampak satgas pra TMMD bersama masyarakat desa Durenombo melepaskan lelahnya,mereka berteduh dibawah pohon sembari menikmati sepotong kue dan secangkir kopi untuk melepaskan dahaganya.sabtu (06/10/2018).

Kopda Purnomo penramil blado tanpa ragu langsung ikut nimbrung.suasana penuh ceria, Parjo banyak bercerita tentang kehidupan warga Durenombo.sampai saatnya Kopda Purnomo penasaran kenapa desa ini disebut dengan Durenombo.mendengar pertanyaan itu Parjo lantas bangun dan mengambil sebotol aqua,dia lantas menenggaknya.dia kemudian menceritakan sejarah desa Durenombo kepada kita.

Konon kabarnya pada tahun 1845 seseorang bernama mbah Duren membuka lahan hutan belantara untuk dijadikan pemukiman dengan waktu yang cukup lama.karena letaknya yang jauh dari keramaian kota, maka tempat ini sering dijadikan pengungsian dari daerah lain pada jaman penjajahan kolonial belanda.

Lambat laun tempat ini menjadi perkampungan namun letaknya sangat terisolir.dalam melakukan babat alas (buka lahan)banyak sekali rintanganya,ada jim periprayangan ilu-ilu banaspati,namun mbah Duren tetap gigih mempertahankan daerah tersebut.

Pada akhirnya terbukalah lahan yang sangat luas (ombo) namun pada saat itu pemukiman mengalami perpindahan sebanyak 3 kali karena menghindari penjajah. Sampai akhirnya mbah Duren meninggal belum ada nama Durenombo.

Pada tahun 1901 dengan kesepakatan warga perkampungan ini diberi nama “Durenombo” dari kata Duren diambil dari penemunya yaitu mbah Duren dan kata Ombo karena sangat luas.mbah Duren sendiri dimakamkan di TPU desa Durenombo dan sampai sekarang masih dijaga kelestarianya oleh keturunan ke 4 dari keluarga “Ki Buyut Sodiwongso”.

Setelah disepakati nama Durenombo selama 24 tahun belum mempunyai kepala desa pada akhirnya pada tahun 1925 ditunjuk mbah Selur(putra KiBuyut Sodiwongso)sebagai kepala desa pertama.dia menjabat selama 30 tahun.kemudian pada th 1956 putra tertua mbah Selur yaitu Bpk Rochani yang menjabat sampai tahun 1977.

Karena sudah sepuh Rochani pun akhirnya diganti oleh putra pertamanya Sugiri.dia tercatat sebagai seniman dalang wayang kulit.dia menjabat sampai tahun 1990,periode berikutnya dijabat oleh Casmuri sampai tahun 1997 dan diganti pejabat sementara Fahrudin .Kemudian pada tahun 1999 dikenalkan dengan pilkades sampai saat ini kades dijabat oleh H.Sireng.

Itulah sepenggal cerita dari Parjo yang tentunya menambah pengetahuan kita semua.sebuah desa yang terletak ditengah hutan dikecamatan Subah kabupaten Batang.dengan adanya pra TMMD ini semoga desa yang masih terisolir ini dapat merasakan manisnya dampak dari TMMD reguler ke103 Kodim 0736/Batang.