Kasdim 0736/Batang Menghadiri  9 Prosesi ritual Ceblok Tandur Waringin Pusering Batang

 

Batang, Jawa Tengah – Kepala Staf Kodim 0736/Batang Mayor Inf Raji Menghadiri  9 Prosesi ritual Ceblok Tandur Waringin Pusering Batang yang syarat dengan mistik dan nilai budaya, bukan mengedepankan mistiknya tapi sebagai nguri – uri tradisi dan budaya jawa.

Dari sembilan ritual diantaranya upacara penjamasan pohon dengan penyiraman air bunga, penutupan penjamasan atau penyiraman air oleh Bupati Batang Wihaji, Wakil Bupati Suyono, Wakil Ketua DPRD Nur Untung Slamet , Kasdim 0736/Batang Mayor Inf. Raji, Kapolsek Batang Asfauri dan Ketua Pengadilan.

” Pohon Ringin memiliki makna simbolik sebagai pengayoman, wujud perlindungan, keagungan dan kemakmuran pemerintahan,” kata Wihaji usai melakukan ritual di Alun – alun Batang, Rabu ( 29/8/2018).

Lebih lanjut penanaman ini karena pohon beringin mengalami roboh, terbakar dan rapuh karena termakan usia yang sudah mencapai ratusan tahun, dan jauh sebelumnya kita sudah musyawarahkan dengan tokoh agama, tokoh budaya, Majelis Ulama Indonesia untuk melakukan regenarsi pohon ringin. Karena menurut sejarah bahwa Alun – alun merupakan pusat peradaban Kabupaten Batang.

” Prosesi ini sebagai simbol Guyub Rukun mbangun Batang, maka harus nguri uri budaya, adat dan tradisi, bukan mistiknya tapi sebagai wahana promosi yang masuk dalam kalender wisata, yang kedepan kita barengkan dengan penjamasan tombak Abirawa,” Jelasnya.

Dalam penanaman pohon beringin kita ambil pohon dari Yogjakarta dan Surakarta, sehingga oleh budayawan dan tokoh agama menyarankan untuk mengabil dari Keraton Solo dan Ngayogyakarta Hadiningrat lanjutnya.

” Percaya tidak percaya peristiwa ambruknya pohon ringin Batang bebarengan dengan Yogjakarta pada 2015, oleh karena itu kita tanam lima pohon beringin untuk mendampingi yang sudah ada, lima sebagai Pancasila,” jelas Wihaji.

Prosesi ritual menyedot perhataian masyarakat Kabupaten Batang yang sejak siang menunggu kirab ceblok tandur waringin, acara yang diakhiri dengan penandatangan Prasasti, pemotongan nasi tumpeng dan makan bersama masyrakat yang hadir dalam prosesi tersebut.

(Pen Dim 0736)